Latest Post

Terseret Air Bah, Nenek Tewas Ditemukan 1 Kilometer dari Lokasi Kejadian

Written By nagari pessel on Selasa, 12 November 2013 | Selasa, November 12, 2013

Painan, Padek—Seorang nenek berusia 75 tahun, warga Desa Baru ditemukan me­ning­gal ketika menyeberangi Ba­tang Tarusan di Lubukbaheh, Desa Baru, Kenagarian Korong Nan IV, Kecamatan Koto XI Tarusan, Sabtu (2/11).

Nenek bernama Anang itu ditemukan meninggal sekitar pukul 17.00 oleh tiga orang anaknya Ana, Una dan Rohana saat pulang dari sawah. Ketika hendak menyeberangi sungai, tiba-tiba datang air bah se­hing­ga Anang terjatuh.

Wali Nagari Korong Nan IV Basrial kepada meng­ung­kap­kan, setiap hari keluarga ini ke sawah menanam padi di sa­wah­nya yang berada di se­be­rang sungai. Pada waktu ke­jad­ian itu korban mau pulang ke­rumah mereka.

“Namun untuk sampai ke rumah, mereka harus me­nye­berangi 2 anak sungai, pada anak sungai pertama ada jem­bat­an namun pada anak sungai yang kedua mereka harus me­nye­­berangi sungi tersebut tan­pa jembatan, namun tiba tiba air bah datang dan menyeret wanita tua itu,” ujarnya

Warga yang mendapat in­for­masi dari anak korban lang­sung melakukan pencarian dan sekitar 1 jam dan 1 km dari awalnya wanita tua itu ter­pe­leset, korban ditemukan ters­ang­kut dibebatuan dalam kon­disi tidak  bernyawa lagi.

“Korban langsung mem­ban­tu melakukan pencarian dan akhrinya ditemukan da­lam keadaan tidak bernyawa la­gi dan langsung di­ma­kam­kan oleh keluarganya,” ujarnya (*)

Sapi Pasisie Terus Berkurang

Painan, Padek—Populasi sapi potong asli Kabupaten Pesisir Selatan terus berku­rang. Padahal, daerah ini pe­ma­sok daging terbesar bagi daerah lain. Berkurangnya populasi sapi ini disebabkan kalah ber­saing­nya kualitas sapi asal Pessel dengan sapi daerah lainnya.

Untuk pasar Padang, sapi pesisie sangat diminati karena kualitas daging dan harganya lebih murah dari sapi lainnya. Akan tetapi, sapi pesisie kalah bersaing dengan sapi lain di pasar luar Sumbar.Salah se­orang peternak sapi, Asman, 57, warga Simaung Cumateh Duku Kecamatan Koto XI Ta­ru­san ke­pada Padang Ekspres meng­ung­kapkan sapi pesisie masih di­mi­nati pasar karena kualitas daging dan harganya relatif murah. Sebagian besar pasar ternak di Padang men­jual sapi pesisie.

“Namun ketika kita ingin memasarkan sapi Pessel ke da­erah lainnya, seperti Solok, Pa­ya­kum­buh dan kabupaten lai­n­nya, sapi pesisie kurang diminati karena kalah ber­saing,” ujarnya.

Sapi pesisie memiliki tu­buh lebih pendek dari sapi lainnya. Harganya berkisar Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Sapi jenis lainnya, seperti sapi asal  Pa­langki, sapi bali dan si­mental  bisa dihargai hingga Rp 12 juta sampai Rp 20 juta.

Perawatan sapi pesisie ti­dak­lah sulit. Peternak cukup mengandangkan sapi itu dan memberikan makan rumput setiap hari. “Dalam pera­watan­nya, sapi pesisie sangat mudah dan biaya murah. Cukup mem­berikan rumput. Jika jenis lainnya, harus diberikan sagu dan konsentrat,” lanjutnya

Seorang peternak, Tamrin, 60, mengungkapkan, lebih suka memelihara sapi pesisie daripada sapi jenis lain karena biaya murah dan tahan pe­nyakit.

“Kalau kita punya biaya dalam pemeliharaan kita lebih untung memelihara sapi  jenis simental atau Bali dari pada sapi Pessel karena hasil keun­tungan yang didapat lebih besar setiap ekornya peternak bisa meraup keuntung Rp 5 juta hingga Rp 10 Juta kalau sapi pesisie keuntungan cuma Rp 2-3 juta,” ujarnya.

Kaswir, 50, peternak asal Batu Hampar Tarusan, me­nga­takan, bibit sapi pesisie berasal dari Kambang, Airhaji, Inde­rapura. Ternak sapi pesi­sie biasa­nya dilakukan dengan sistem bagi hasil. Beberapa ekor sapi dise­rahkan kepada warga sekitar bulan November, dan dijual menjelang kurban tahun depan.

“Sapi itu diserahkan kepa­da peternak dan hasilnya dari perjualan sapi dikurangi mo­dal awal pembelian sapi. Itulah yang dibagi dua,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seekor sapi dibeli seharga Rp 5-6 juta, lalu dipelihara warga dan di­jual seharga Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Keuntungannya Rp 3 juta itu dibagi dua antara pemilik sapi dan pemelihara.

Begitu juga secara kelom­pok. Di Pessel, ada kelompok ta­ni di 12 kecamatan. Namun, se­kitar 35 kelompok tidak aktif.

Kepala Bidang Peternakan pada Dispetaholbunak Pessel, Marzukri mengungkapkan, sejak beberapa tahun lalu telah menyiapkan program insemi­nasi buatan (IB) gratis. Sasa­rannya, 33.000 ekor sapi beti­na produktif milik peternak di 12 kecamatan.

Data Dinas Peternakan Pesisir Selatan, populasi sapi potong 84.000 ekor per tahun. Jumlah peternak 35.000 KK dari total penduduk Pessel 95.000 KK. Populasi sapi ter­ba­nyak di Kecamatan Lenga­yang, yakni 16.000 ekor disu­sul Bayang sebanyak 14.000 ekor. Sementara potensi lahan telantar yang bakal disuburkan untuk lokasi pengembangan sapi terbentang sekitar 18.400 ha di 12 kecamatan.

Sapi pesisie terdiri 60 per­sen sapi lokal dan 40 persen sapi hasil perkawinan silang, dengan produksi daging 6,88 juta kilogram per tahun.
“Kita juga mengimbau pe­ternak sapi agar tidak menjual sapi betina produktif sehubu­ngan berkurangnya populasi sapi pesisie,” serunya. (*)

Jembatan Gantung Putus Tebing Sungai Terban, Pemukiman Terancam

Painan,Padek—Bukan saja jembatan yang putus, tapi juga tebing sungai yang terban, kondisi ini dialami masyarakat Kampung Medan Baik Nagari Kambang Induk Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). 

Kondisi ini jelas  membuat masyarakat di kampung itu mengeluh. Sebab dua bencana itu bukan saja  memutuskan akses masyarakat antara dua nagari yakni Nagari Kambang Induk dengan Nagari Kam­bang Utara. Tapi enam unit rumah warga juga terancam terban masuk sungai batang Lengayang.

Ajo Gindo 55, warga Kam­pung Medan Baik Nagari Kam­bang Induk Kecamatan Lenga­yang mengatakan kepada Pa­dang Ekspres kemarin (6/11) bahwa saat ini warga dua na­gari, yakni Kambang Induk dan Kambang Utara, bukan saja terisolasi akibat putusnya jem­batan gantung sepanjang 60 meter itu. Tapi enam warga pemilik rumah yang berdiri di sekitar pinggir tebing sungai batang lengayang juga cemas.

“Jembatan gantung yang telah putus saat ini, memang rusaknya sejak banjir bandang bulan November tahun 2011 lalu. Saat itu kondisinya me­mang masih oleh. Karena be­lum putus, sehingga masih bisa dilewati warga,” jelasnya.

Walau sudah hampir me­ma­suki masa dua tahun, tapi pemerintah belum juga mela­kukan perbaikan, baik ter­hadap jembatan yang rusak, maupun pengamanan tebing sungai.

“Karena kondisi yang cu­kup labil akibat belum juga diperbaiki itu, sehingga hujan deras yang terjadi Minggu (3/11), membuat jembatan gan­tung yang oleng ini betul-betul menjadi putus. Kejadian ini, bersamaan pula dengan ter­bannya tebing sungai. Sehingga saat ini jarak enam unit rumah warga di lokasi ini, tidak lagi lebih dari 5 meter. Bahkan satu unit rumah, pondasinya juga ada yang sudah menggantung dan nyaris terban ke dalam sungai,” katanya.

Kondisi itu memang sangat dikeluhkan Siet 40, pemilik rumah yang juga menjadi tem­pat usahanya sebagai pedagang alat-alat bangunan, ketika ditanya Padang Ekspres (6/11) saat berkunjung kemarin.

Dijelaskanya bahwa rumah yang juga menjadi tempat usahanya menjual alat-alat bangunan, saat ini sudah nyaris terban ke dalam sungai batang Lengayang. padahal sebelum bencana banjir bandang terjadi daerah itu, jarak rumahnya dengan sungai masih sekitar 20 meter.

“Saban hari setiap air su­ngai meluap akibat hujan de­ras, tebing sungai selalu terban secara berangsur. Terakhir pada hari Minggu (3/11) yang saat itu memang terjadi hujan yang cukup deras. Karena air sungai meluap, sehingga tebing sungai yang kondisinya sudah labil ini menjadi terban. De­mikian juga dengan jembatan gantung yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah saya ini. Sebab jembatan yang sudah oleng ini, betul-betul menjadi putus,” ungkapnya.

Dikatakan Siet bahwa yang cemas saat bukan saja dia dan keluarganya, tapi juga lima orang warga lainya yang sama-sama memiliki rumah disekitar lokasi itu.

“Selain rumah saya, yang terancam terban masuk sungai juga lima unit bangunan warga lainya. Sebab rata-rata jaraknya tidak lebih dari 5 meter lagi dari tebing sungai. Kondisi yang juga cukup mencemaskan ada­lah pada ujung ruas jalan jem­batan gantung itu. Karena jalan utama yang menghubungkan Nagari Kambang Induk dan Nagari kambang Timur juga terancam putus. Saat ini saja jarak badan jalan dengan te­bing sungai  tinggal lagi sekitar 4 meter, padahal dulunya men­capai 30 meter. Dikuatirkan bila hujan deras kembali ter­jadi, yang akan terban bukan saja rumah saya dan lima unit lainya, tapi juga ruas jalan yang menghubungkan dua nagari ini,” terangnya.

Wali Nagari Kambang In­duk Kecamatan lengayang, Edison ketika dihubungi Pa­dang Ekspres kemarin (6/11) mengakui bahwa saat ini enam warga yang memiliki rumah di sekitar jembatan gantung yang putus itu, sudah  sangat cemas. Sebab enam unit rumahnya terancam terban masuk sungai.

“Saat ini enam unit rumah itu, tidak lagi lebih dari 5 meeter jaraknya dari tebing sungai. Bahkan satu unitnya,  yang merupakan milik Siet, pondasi bangian belakangnya sudah menggantung di bibir sungai ini,” jelasnya.

Dikatakanya bahwa yang dicemaskan dan dikeluhan warga saat ini bukan saja an­caman terbanya enam unit rumah dan ancaman putusnya ruas jalan utama penghubung dua nagari yang melewati ping­gir sungai itu. Tapi juga keluhan terisolasinya hubungan warga nagarinya dengan nagari te­tangga.

“Selain kecemasan bagi enam warga pemilik rumah yang terancam terban masuk sungai ini, yang ditakutkan warga juga ancaman terbanya jalan utama penghubung dua nagari dengan pusat keca­matan. Sebab ruas jalan untuk menuju nagari Kambang In­duk dengan kambang Timur dari pusat kecamatan, tidak lagi lebih dari 5 meter. Dari itu penganganan darurat sangat diharapkan agar pen­deritaan masyarakat tidak semakin bertambah sebagai mana kelu­han keterisolasian antara war­ga nagari Kam­bang Induk dengan nagari Kambang Utara ini,” harap­nya.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pes­sel, Yusdi Ali Umar ketika dihubungi kemarin, menga­kui kondisi kerusakan pada tebing sungai batang Lenga­yang di Kampung Medan baik itu su­dah cukup mendesak.

“Agar ancaman kerusakan pemukiman warga dan ruas jalan utama penghubung dua nagari itu bisa diselamatkan. Sehingga pengamanan tebing sungai melalui pembangunan parit miring atau batu grip perlu dilakukan. Sebab bila itu diabaikan, maka pengikisan tebing sungai akan terus ter­jadi. Upaya itu juga akan me­nye­lamatkan jembatan bila kembali dibangun agar tidak kembali rusak atau putus,” katanya.

Ditambahkanya bahwa kon­disi itu sudah dilakukan peninjauannya oleh Bupati Pessel, Nasrul Abit Senin (4/11) sehari setelah luapan batang sungai Lengayang terjadi ber­sama dinas PSDA dan bebe­rapa pejabat lainya. (*)


Lengayang Pernah Punya Mata Uang Sendiri

Monumen yang merupakan simbol perjuangan sengaja dibangun untuk mengenang semangat perjuangan para perjuang bangsa, begitu juga tugu yang dibangun Kampung Koto Pulai Kambang Timur, Kecamatan Lengayang Pesisir Selatan. Tugu ini memiliki arti dan makna bagi masyarakat Pesisir Selatan. Orang setempat menamakannya, Tugu Pitih Kambang.

Luas lokasi tugu sekitar 8 kali 8 meter. Dari jalan kabupaten, pe­ng­un­jung bisa langsung dapat menyak­sikan tugu bersejarah tersebut. Turun dari kendaraan, ada anak tangga yang harus dilewati untuk dapat mencapai lantai atau piringan yang terbuat dari keramik warna merah tersebut.

Di lokasi 8 kali 8 meter itu berdiri kokoh sebuah tugu yang dibuat puluhan tahun silam oleh peme­rintah. Di sekeliling tugu juga ada pagar pengaman yang sudah tidak aman lagi bagi aset bersejarah ini. Bila diperhatikan dengan seksama, tugu tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian. Bagian kaki, bagian tengah dan bagian atas. Bagian kaki yang terletak di atas pondasi berben”tuk segitiga itu diberi prasasti yang bertuliskan tentang sejarah per­juangan masyarakat Pesisir Selatan Kerinci.

Lantas pada bagian tengah ter­dapat relief berupa mata uang. Uang yang ditampilkan dua jenis, pertama URIPS dan Pitih Kambang dengan pecahan masing masing Rp50, Rp25 dan Rp10.

Relief uang ini menggambarkan tentang jenis uang yang pernah beredar di masa revolusi fisik. Kedua jenis uang itu memiliki rantai dalam membentuk sejarah perjuangan kemerdekaan di Pesisir Selatan Kerinci. Saat kondisi sedang sulit, pada tahun 1948 dan 1949, Le­ngayang pernah mencetak mata uang sendiri. Selanjutnya uang pecahan Rp10 dan Rp5 itu ditarik diperedaran dan berganti dengan URIPS.

Pada bagian atas berdiri patung pejuang. Patung pejuang ini meng­gambarkan semangat juang masya­rakat Pesisir Selatan dalam memper­ta­hankan NKRI. Selain itu, patung tersebut juga menggambarkan bah­wa di Koto Pulai pernah dijadikan sebagai basis pergerakan menentang agresi Belanda.

Tugu itu hanyalah simbol per­juangan masyarakat semata, seka­rang ini adalah sebesar apa makna tugu itu dipahami dan dihargai oleh masyarakat. Apalagi pada peringatan hari pahlawan ke 68 sejauh mana masyarakat tahu dan paham per­juangan para pahlawan tersebut.

Memang tugu merupakan simbol perjuangan ,tetapi keberadaannya sekarang ini hanya sebatas simbol belaka,tidak ada perhatian khusus diberikan kepada tugu itu. Sebut saja tugu pitih kambang ini tugu, yang seyogianya memberikan makna bagi pergerakan kemerdekaan tersebut kini tampak tidak terurus.

Disela sela keramik lantainya, rerumputan tumbuh dengan subur. Keramik yang semula berwarna merah hati itu, kini justeru terlihat hijau dan kehitaman. Hanya ma­syarakat sekitar saja yang hanya rutin membersihkan tugu tersebut, itupun dilakukan ketika melakukan gotongroyong bersama.

Begitu juga tugu Batas Reville yang terletak di Kenagarian Siguntur Ke­camatan Koto  XI Tarusan,tugu itu dibiarkan saja berdiri membisu di tengah tingginya hilalang dan rum­put liar.

Padahal tugu itu terletak di ping­giran jalan Padang-Painan.tetapi para pengendara yang melintasi jalan itu tidak tahu  kalau disitu telah berdiri sebuah tugu yang menjadi bagian  sejarah Indonesia di masa dahulu.

Tugu perlu dijaga, tugu penuh makna itu perlu dipertahankan dari kerusakan. Baik kerusakan dari tangan yang ingin menjahili, atau kerusakan akibat proses alam dan cuaca.Sebab “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Ketua DPRD Kabupaten Pessel Mardinas N Syair menilai peringatan hari pahlawan diharapkan menjadi momentum pembangkit semangat nasionalisme  dan nilai nilai ke­juangan diri kita selaku anak bangsa.

“Sehingga cita cita kemerdekaan yang tumbuh dalam setiap jiwa dan semangat para pahlawan kita dapat kita wujudkan secara bersama-sama apa­lagi dalam peringatan hari pah­lawan diharapkan sebagai bentuk bagi kita dalam menghargai dan mengenang para pahlawannya,” ujarnya

Sementara, kemarin peringatan hari pahlawan  yang dipusatkan di lapangan Bola Kaki Gor H. Ilias Yakub kemarin, Minggu (10/11) dan ber­langsung hikmat.

Yang dihadiri Kapolres Pessel AKBP Toto Fajar Prasetyo sebagai ispektur Upacara, Bupati Pessel yang diwakili Sekda Erizon, Dandim Letkol Imanuel Pasaribu, Kepala SKPD, kantor,TNI, Polisi, Pol PP, Dis­hub,  Dinas Kesehatan, Damkar dan pela­jar.(*)

Sumber

Pengawasan Laut Pessel Harus Ditingkatkan

Bupati Pesisir Selatan, H Nasrul Abit mengungkapkan bahwa peningkatan pengamanan terhadap laut Pesisir Selatan sangat perlu dilakukan, agar penjarahan tidak dilakukan nelayan luar di daerah ini.

Kita sangat sayangkan, adanya nelayan luar yang mengambil ikan di Pessel dengan menggunakan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem laut Pessel, seperti terumbu karang, hal ini sangat perlu ditindak tegas, ungkap Bupati H Nasrul Abit pada Padangtoday.com, Senin (11/11) di Painan.

Seperti baru-baru ini, kita menemukan nelayan Vietnam dengan menggunakan bendera Indonesia untuk mengelabui petugas telah melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Pesisir Selatan dengan menggunakan jaring ikan jenis Millenium, meskipun kapalnya tidak berhasil kita tangkap, namun jaring ikan jenis Millenium sepanjang 3,8 Km milik nelayan Vietnam tersebut berhasil kita amankan, jelas Bupati.

Untuk itu, pengawasan terhadap laut Pesisir Selatan sangat perlu ditingkatkan agar kita tidak kecolongan dari penjarahan ikan yang dilakukan oleh nelayan asing dan luar daerah, apalagi peralatan yang digunakan dapat merusak terumbu karang yang ada,tutupnya.(*)

Sumber

Translate


 
Support : Website Alirman Sori | Pesisir Selatan | Indonesia
Copyright © 2013. Nagari Kito - All Rights Reserved
Created by Pasisia.com Published by Jasaweblog
Proudly powered by Hsb